Keprihatinan terhadap krisis Masjid Al Aqsa tidak hanya milik Muslim di Palestina, tetapi juga umat Kristiani. Puluhan umat Kristen dan Islam Palestina berunjuk rasa di depan Gereja Kelahiran Yesus di Betlehem, Tepi Barat, untuk memprotes aksi Israel di Masjid Al Aqsa, Yerusalem.
“Hari ini kami berdiri di depan Gereja Kelahiran Kristus, yang tidak lain adalah tempat kelahiran Yesus Kristus, untuk menunjukkan tidak ada perbedaan antara Masjid Al Aqsa dengan Gereja Makam Suci,” ujar juru bicara Kaukus Pemuda Ortodoks Arab, Jalal Barham, dinukil dari Middle East Monitor, Selasa (25/7/2017).
Unjuk rasa diadakan pada Senin 24 Juli 2017 untuk memprotes pemasangan detektor logam di pintu masuk kompleks Masjid Al Aqsa. Jalal menegaskan, seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan di pintu masuk antara Masjid Al Aqsa dan gereja-gereja di kompleks Makam Suci Yerusalem.
“Tidak ada bedanya antara gerbang Masjid Al Aqsa dengan gerbang Gereja Makam Suci dan Gereja Kelahiran Yesus. Kami menegaskan bahwa kita adalah satu, dan sejarah kita adalah satu, Muslim dan Kristen. Orang-orang tidak akan menerima hal tersebut. Kami akan terus berjuang untuk kebebasan dan martabat kesucian Islam dan Kristen,” tukas Jalal Barham.
Warga Palestina di Yerusalem masih menolak untuk masuk ke dalam area Masjid Al Aqsa sejak detektor logam dipasang pada Minggu 16 Juli 2017. Muslim Palestina bahkan menunaikan ibadah salat Jumat pada pekan lalu di depan detektor logam yang dijaga ketat pasukan keamanan Israel.
Israel akhirnya mencabut detektor logam tersebut sejak Senin malam waktu setempat sesuai keputusan rapat menteri kabinet. Meski demikian, Israel tetap melakukan langkah pengamanan dengan memasang kamera pengawas canggih di sekitar jalan-jalan yang menuju Masjid Al Aqsa.
Mudik lebaran sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Melepaskan kerinduan kepada orang tua atau sanak saudara menjadi alasan banyak orang menempuh jarak ratusan kilometer untuk pulang ke kampung halamannya.
Alasan itu juga mengiringi kisah Okta (14 tahun), Ijal (12 tahun) dan Aslam (11 tahun). Tiga kakak beradik ini menempuh perjalanan sekitar 500 km untuk bertemu dengan ibundanya.
Dari Indralaya, Sumatera Selatan, mereka melakukan perjalanan mudik menggunakan dua sepeda kecil menuju Ciledug, Tangerang. Salah satu sepeda mereka gunakan untuk berboncengan.
Mereka selama ini tinggal bersama neneknya. Pada lebaran ini karena rasa rindu kakak beradik tersebut akhirnya memutuskan hendak berjumpa dengan ibundanya.
Bersepeda dari Sumsel ke Tangerang (Foto: Instagram/asdp191)
Perjalanan 3 bocah mudik dengan sepeda itu diunggah tim ASDP 191 ke akun Instagram @asdp191. Dalam potingan itu diceritakan tim ASDP bertemu kakak beradik itu di buffer zone Rumah makan Begadang 4 Bakauheni, Lampung.
Ketiganya bercerita sudah 3 hari menggowes sepedanya. Beberapa kali mereka menumpang truk hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Bakauheni.
Saat ini tim layanan ASDP 191 mengantarkan ketiga bocah tersebut ke rumahnya di Ciledug, Tangerang.
Pada hari raya Idul Fitri, biasanya kebanyakan orang akan merayakannya dengan penuh kegembiraan.
Sebab, Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi para umat Muslim yang berhasil melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh.
Biasanya, kemenangan itu ditandai dengan membeli baju baru untuk dibeli di hari raya.
Hal itu biasanya dilakukan para orang tua untuk anak-anaknya yang berhasil berpuasa.
Para anak-anak pun akan antusias dengan mengenakan baju baru mereka di hari lebaran.
Namun, berbeda dengan anak gadis yang satu ini. Ia memilih membeli barang lainnya, dibanding baru baru pada hari raya.
Gadis itu memutuskan untuk membeli barang tersebut karena barang itu merupakan barang yang sangat ia idamkan. Selama ini ia sangat ingin membelinya, tapi ia tak punya uang sebesar itu.
Ia pun urung membeli baju lebaran, dan beberapa makanan untuk lebaran demi membeli barang itu.
Barang tersebut tak lain adalah sebuah Al-Quran. Kisah itu dibagikan oleh pemilik akun Facebook Roel Mustafa.
Begini kisahnya :
Menangis karena ingin Al quran.
Belanja bareng yatim kemarin nyisain cerita yang selalu bikin saya menghisabi diri.
Saya dampingin 2 orang anak yatim. Namanya Sifa dan Bule.
Sifa Fauziah, usianya sekitar 14 tahun, kelas 2 SMP di Sekolah Rakyat daerah Ancol, sudah 5 tahun ayahnya meninggal, sekarang dia tinggal bersama ibu dan 1 orang adiknya, waktu belanja kemarin dia sempat nangis sambil memegang alquran,
"Syifa ko nangis?" Tanya saya
"Pengen beli Qur'an kak, tapi mahal banget" Jawab dia sambil menghapus airmata dengan kerudungnya
Ternyata dia pengen banget beli Quran itu tapi harganya lumayan mahal buat dia.
"Kalo Syifa beli Qur'an berarti syifa nggak bisa beli barang lain buat ibu sama adek di rumah.. gimana ya kak, syifa bingung..?"
Syifa nggak bisa nutupin tangisnya, kerudungnya basah banget buat ngusap air matanya, ....
"Ahh nih anak bikin gua nangis di tempat umum..." ujar saya dalam hati.
Kalo dia beli Quran, berarti dia nggak bisa beli barang lain yang sebelumnya udah dia pilihin buat ibu dan adiknya.
Sementara di keranjang belanjanya saya liat syifa udah ngambil kue, syirup dan makanan lain yang biasa buat lebaran.
Dia jadi inget sama keluarganya yang sekarang nggak sempurna "nggak bisa kumpul kaya dulu lagi saa bapak" kata syifa
Anak ini menangis karena ingin al quran.
Kita sering menangis karena liat tetangga beli barang baru... atau lebih sering kita menangis karena dunia..
Kapolsek Pekalongan Timur Kompol Agus Riyanto bersama sejumlah anggotanya mulai menghentikan tukang becak yang lewat di depan Mapolsek Pekalongan Timur, Jumat (16/6) (Radar Pekalongan/JawaPos.com)
Kepolisian punya cara unik dalam kegiatan berbagi di Bulan Ramadan ini. Mereka menggelar "Operasi Dompet" dengan sasaran tukang becak dan pengendara sepeda onthel. Mereka yang kedapatan kosong dompetnya akan diisi lembaran uang oleh polisi. Kapolsek Pekalongan Timur Kompol Agus Riyanto bersama sejumlah anggotanya mulai menghentikan tukang becak yang lewat di depan Mapolsek Pekalongan Timur, Jumat (16/6) pukul 16.00 WIB. Bukan hanya abang becak, beberapa pengendara sepeda onthel pun disetop. Mereka dihentikan satu persatu.
Meski sempat ada yang menolak dan berusaha menghindar, tukang becak akhirnya mau berhenti sejenak. Lalu, kapolsek bertanya apakah yang bersangkutan bawa dompet atau tidak. Kalau bawa dompet, dompet itu diminta dikeluarkan untuk diperiksa isinya.
Ada dompet yang ketika diperiksa ada isinya lembaran uang beberapa ribu rupiah, ada yang hanya berisi KTP tanpa ada uang sepeserpun, bahkan ada yang dompetnya tidak ada isinya sama sekali.
"Maaf, Pak, KTP saya ketinggalan di rumah," kata seorang tukang becak bernama Amad (60), warga Kelurahan Poncol, Kecamatan Pekalongan Timur, yang ketika diperiksa mengira para polisi itu sedang menggelar razia KTP.
"Tidak apa-apa. Besok-besok lagi KTP-nya dibawa," kata Kompol Agus Riyanto. "Dompetnya kosong ya, tidak ada uangnya?" tanya Agus Riyanto lagi. "Kosong pak, dari tadi belum dapat penumpang," jawab Amad dengan nada lirih.
"Karena dompetnya kosong, ini saya isi uang, ya," kata Agus lagi, sembari memasukkan lima lembar uang pecahan lima ribuan yang baru ke dalam dompet milik Amad. "Ini uang buat panjenengan (Anda, red), semoga bermanfaat," ujar sang Kapolsek.
Pemberian itu sontak disambut gembira oleh Amad. "Alhamdulillah..., maturnuwun, pak.. maturnuwun," kata Amad, sembari melanjutkan mengayuh becaknya untuk mencari penumpang.
Peristiwa yang kurang lebih sama dialami Tohari, salah satu abang becak yang sore itu juga terjaring "operasi". Meski awalnya sempat kebingungan kenapa dia diminta mengeluarkan dompetnya, ia akhirnya senang karena ternyata mendapat uang Rp25 ribu.
"Saya kira tadi ada razia KTP. Tentunya saya senang sekali tiba-tiba dikasih uang. Tadi seharian baru narik satu penumpang, baru dapat uang 10 ribu rupiah," ungkapnya.
Acara bagi-bagi uang itu tak hanya diberikan kepada abang becak maupun pengayuh sepeda ontel yang membawa dompet. Yang tidak bawa dompet pun mendapatkan uang baru pecahan Rp5 ribu dan Rp10 ribu. Sebagian besar masing-masing mendapat Rp25 ribu. Tetapi ada pula yang mendapat nominal Rp20 ribu.
Abang becak yang menjadi sasaran kegiatan tersebut juga tidak hanya yang melintas di depan mapolsek setempat. Tetapi juga yang sedang mangkal di depan RS Siti Khadijah, yang berjarak sekitar 200 meter dari Mapolsek Pekalongan Timur. Sedikitnta ada sekitar 20 orang yang menerima sedekah pada sore hari kemarin.
Kapolsek Pekalongan Timur Kompol Agus Riyanto menjelaskan, kegiatan itu merupakan bagian dari serangkaian bakti sosial yang dilaksanakan jajarannya selama bulan Ramadan ini.
"Kita pada bulan Ramadan ini sudah beberapa kali melaksanakan kegiatan sosial, seperti santunan kepada anak yatim, abang becak, pengamen, orang jompo. Ada pula pembagian takjil bagi pengguna jalan. Yang sekarang, adalah Operasi Dompet Ramadan," ungkapnya.
Operasi Dompet Ramadan ini sengaja menyasar para abang becak maupun beberapa pengayuh onthel. Dikandung maksud, sebagai bentuk kepedulian anggota Polsek Pekalongan Timur terhadap nasib abang becak yang secara ekonomi kekurangan. "Tadi bahkan kita cek, sekitar 90 persen dompetnya kosong, tidak punya uang, kalau ada uangnya pun hanya sedikit," terangnya.
Menurutnya, bakti sosial itu dalam rangka mengalap barokah dan pahala di bulan Ramadan. Apalagi puasa Ramadan sudah akan memasuki minggu ke tiga, yang artinya umat muslim harus lebih memperbanyak ibadah, amalan, dan sedekah.
"Kita juga memohon doa restu dari mereka, saudara-saudara kita yang kurang ini, agar diberi keselamatan dalam menjalankan tugas-tugas sebagai aparat kepolisian ke depan. Apalagi sebentar lagi mau ada Operasi Ramadniya. Harapannya, dengan kegiatan semacam ini juga akan lebih mendekatkan Polri dengan masyarakat," imbuh Kompol Agus Riyanto.
Seorang guru di Sumenep, Madura, mengajar dengan keterbatasan fisik. Pria bernama Untung tersebut, tidak memiliki kedua tangan.
Meski demikian, ia tak pernah putus asa untuk mencerdaskan generasi muda. Setiap hari, langkah kakinya dengan mantap menuju ke sekolah.
Untung (CAPTURE KOMPAS TV)
Dikutip dari Kompas TV, Untung mengajar di MI MTS Miftahul Ulum, Batang, Batang Sumenep, Madura.
Ia ngajar bahasa Arab, Al-Quran, Al-Hadist, Aqidah, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan PPKN.
Untung mulai mengajaran pada tahun 1992. Saat mengajar, Untung menggunakan kakinya untuk menulis di papan tulis.
Bahkan, untuk mengisi daftar nilai siswa hingga mengerjakan administrasi kantar, Untung juga mengandalkan kakinya.
"Ya meski pun saya bisa menulis menggunakan kaki, tapi ya kadang kesulitan juga sih" kataya.
Untung (CAPTURE KOMPAS TV)
Tak hanya mengajar disekolah, Untung juga mengajar ngaji di rumahnya. Untuk menambah penghasilan, ia memelihara ayam dan burung.
Diketahui dari video yang diunggah oleh akun YouTube Elya Rakasiwi saat Untung menjadi bintang tamu acara Kick Andy Metro TV, keterbatasan fisik yang dialamai Untung sudah sejak lahir.
Karena kekurangan fisiknya tersebut, ia sempat dilarang oleh orangtuanya untuk bersekolah.
Namun, karena keinginan dan tekat yang kuat, untung nekat bersekolah tanpa sepengetahuan orangtuanya yang berprofesi sebagai petani.
Meski tak memiliki tangan, namun Untung tidak mengenyam pendidikan di Sekolah luar Biasa (SLB).
Untung tetap menempuh pendidikan di sekolah umum. Saat menempuh pendidikan, jalan yang harus dilalui pun terjal. Ia sering dicemooh dan dihina teman-temannya karena tak mimiliki tangan.
Tak hanya itu, Untung juga mengalami kesulitan untuk membayar SPP, lantaran orangtunya tak mampu. Saat SMP ia sering dipanggil guru karena kerap menunggak bayaran sekolah.
Namun, setelah itu, ia dibebaskan dari bayaran sekolah. Untung hanya mengenyam pendidikan hingga bangku SMP. Setelah lulus SMP, ia memutuskan untuk masuk pondok pesantren. Pada saat awal dirinya mengajar, ia tak dibayar.
Meski demikian, Untung tetap tetap mengajar, lantaran terinspirasi oleh beberapa tokoh, seperti Ki Hajar Dewantara dan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mengajar tanpa pamrih. Untung ingin mengikuti jejak para tokoh tersebut.
"Saya termotivasi Wahid Hasyim, Ki Hajar Dewantara dan Kyai Haji Ahmad Dahlan, mereka mengajar tanpa pamrih, saya ingin mengikuti jejak beliau" katanya.
Mengajar tanpa memiliki tangan, tentu mengundang reaksi dari anak didiknya. Untung mengaku, anak didiknya tercengang, saat melihat ia menulis di papan tulis menggunakan kaki.
Uang memang tidak bisa dimakan, tapi dengan uang seseorang bisa membeli makanan. Ini bukan zaman dimana segalanya bisa didapat dari alam.
Terlebih ketika hidup di perkotaan yang tiada halaman bisa ditanam benih-benih sumber makanan. Setiap hari hanya terlihat gedung tinggi menjulang. Dengan aktivitas lalu lalang orang yang malang.
Mengaku kehidupannya tercukupi karena sibuk mencari uang padahal tidak ada waktu yang bisa dinikmati. Karena uang juga manusia berlaku tak manusiawi. Ketakutan kehilangan uang sebab sulit dicari.
Hanya karena merasa tidak sebanding uang yang dikeluarkan untuk membeli barang di tempat yang tidak sekelas supermarket.
Kisah netizen satu ini mungkin bisa menjadi pelajaran buat kita semua ketika menawar ke pedagang kecil.
Akun Facebook Anna Crystal X Nasa, Rabu (8/6/2017), membagikan pengalamnnya melihat sejumlah ibu-ibu menawar mangga yana harganya satu tumpuk Rp 35 ribu.
Ibu ini bersikeras diberi harga satu tumpuk mangga sebesar RP 20 ribu dengan memberikan berbagai alasan.
Seperti mangga tidak manis, bentuknya sudah tidak bagus, dan lain sebagainya.
Meskipun demikian kakek pedagang Mangga ini mengaku ia hanya bisa memberikan satu tumpuk mangga dengan harga Rp 30 ribu.
Pasalnya jarak antara rumah dan tempatnya berdagang sangat jauh.
Ibu-ibu ini masih saja tetap bersikeras dan malah semakin menjelek-jelekkan buah Mangga.
Karena tidak tahan dengan cara para ibu-ibu tersebut menawar yang dianggap sudah kelewatan.
Akun ini pun memborong semua Mangga tersebut sesuai dengan harga yang pertama kali ditentukan kakek ini sbebesar Rp 35 Ribu.
Pelit menjadi salah satu sifat seseorang yang juga mendewakan uang.
Beberapa orang bahkan suka menawar ke pedagang kecil.
Kakek ini terkejut, malah ia meminta Anna agar membayar Rp 30 ribu saja.
Namun, Anna tetap membayar semua mangga milik kakek ini dengan total harga Rp 150 ribu.
Ibu-ibu yang menawar tersebut tiba-tiba jengkel karena tidak dapat mangga.
Ia pun meminta kakek tadi membungkuskan mereka. Tapi kakek tadi menjawab sudah diborong.
Berikut cerita selengkapnya:
4 orang ibu muda itu ramai menawar tumpukan mangga di kakek pedagang mangga. Dari pakaian dan asesoris
yang digunakan saya yakin mereka dari kalangan yang cukup berada. Paling tidak golongan menengah keatas.
Para mahmud dengan jilbab syari kekinian, dengan tote bag yang saya sendiri gak bisa bedakan itu asli apa ori,
berkacamata hitam, wajah kinclong dengan full make up. Jelas banget beda dengan saya yang pake gamis hitam
kerudung hitam wolfis plus kaos kaki dan sendal jepit, dengan dompet dikepit.
20 ribu aja mang secumpuk mangga nya... mahal banget 30... celoteh ibu yang berkaca mata hitam.
Gak dapet neng....30 udah murah. Pengen mah mamang jual 35. Ini udah siang aja belum laku mamang jual 30, jawab si pedagang.
Saya melirik sambil memilih bawang putih.
Makanya gak laku, mamangnya jualnya kemahalan, udah 20 ribu.. kita beli niih.. tukas ibu tadi.
Gak bisa neng.... 30 aja, ongkos mamang kesini aja udah berapa, modalnya berapa. Ini gak rugi neng manis mangganya, bujuk pedagang mangganya.
Kalau gak manis gimana? Kan lagi puasa gak bisa nyicipin. Lagian mangga nya juga kecil-kecil. Tuh ada yang pecah lagi... jelek mangganya... udah 20 aja cepetan mang... panas nih... kata ibu yang bertote bag bunga-bunga.
Si mamang cuma diam membisu.
Entah kenapa, aku mulai kesal dengan cara mereka menawar. Sudah nawarnya kebangetan, ngejelek-jelekin
barang jualannya pula, kalau harga gak cocok, barang gak bagus, ya sudah aja gak usah dibeli daripada lisan
nyakitin hati menurutku. Tapi aku masih diam sambil menunggu hitungan belanjaku.
Udah mang cepetan dikasih enggak... kalau gak kasih ya udah.. masih banyak yang jualan yang lain, tukas yang bergamis dengan renda di kerudung.
Gak bisa neng, beneran... 25 aja ya udah lah asal laku, kata si mamang mulai pasrah.
Ah 20 aja lah mang ... kalau 20 mau ayo, kalau enggak ya udah.... kata yang berkaca mata hitam sambil menarik temannya dan pelan-pelan berlalu.
Si mamang terpaku menatap tumpukan mangga. Ada raut sedih di wajah tua dan keriput. Tubuh kurus dan ringkihnya kembali duduk berjongkok waktu kuhampiri dia.
Ya Allah bu..... alhamdulillah... ini bener mau 35? Alhamdulillah bu.... saya pengen ngasih cucu saya buka puasa
pake ayam. Cucu saya baru puasa penuh tahun ini. Kasihan tiap hari pake tempe aja, sekali-sekali mumpung
bulan puasa biar ngerasain makan ayam, matanya berkaca-kaca. Dari kecil bapak ibunya meninggal kecelakaan,
jadi ikut saya.. katanya sambil memasukan mangga ke kantong plastik.
Mang ... itu semua aja mangganya saya beli... jadi 3 cumpuk 105 kan ya... kataku...
Semua bu? banyak amat? Pake karung aja ya bu? Buat apa ibunya? Tanyanya ke heranan....
Saya cuma tersenyum. Ini uang nya sisanya beliin ayam buat cucunya, kataku.
Ya Allah...alhamdulillah... makasih yaaa bu... semoga lancar rejekinya....katanya penuh semangat memasukan buah mangga ke dalam karung.
Ke 4 ibu tadi datang lagi, gimana mang... ya udah 25 deh bungkus kata wanita berkacamata hitam.
Sudah habis neng,.. diborong ibu ini.. kata si mamang dengan senang.
Banyak banget bu, bagi ya bu kita beli dikit, rayu wanita berkaca mata itu.
Maaf bu, gak dijual. Lagian ini mangganya tadi katanya jelek, belum tentu manis, pecah pula, kalaupun dijual sekarang sudah jadi 150 ribu harganya, ibu gak mampu deh belinya, kataku sambil berlalu.
Ayo mang..anter ke mobil kataku...
Bapak tua itu mengangkut dengan semangat.
Saya tahu 4 pasang mata itu menatapku dengan marah, tapi biarlah mereka belajar bahwa lisan yang tidak terjaga itu akan membuat luka, belajar menghargai pedagang lemah dan muamalah yang santun....
Masih banyak yang memilih untuk bekerja keras ketimbang harus mengemis atau meminta-minta. Meskipun terkadang hasil jerih payah yang didapat dari usaha tersebut tidak seberapa.
Seperti yang ditulis pemilik akun Facebook Fauziah Ulfa, seorang kakek yang sudah terlihat renta giat mencari rezeki. Ia berjalan pagi dari rumah membawa gerobak kecil berisi abu gosok yang dijualnya Rp 3.000 per satu kantiong plastik.
Sang kakek pun tak peduli dengan panasnya sengatan matahari meskipun sedang berpuasa. Mirisnya lagi, kakek yang hidup menumpang ini hanya sahur dan buka puasa hanya dengan minum air putih. Ia pun tak bisa mengobrol banyak karena akan membuat perutnya sakit.
Berikut postingannya:
Teruntuk Mahasiswa/i UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Beberapa kali saya temui kakek ini, bahkan beberapa kali pula saya mencari keberadaan beliau.
Beliau kakek tua yang giat mengais rezeki, tak peduli tubuh renta, tak peduli sengatan matahari.
Berjalan pagi dari rumah membawa gerobak kecil miliknya yang berisi "bola kecil dan abu gosok".
Fikirnya saya saat tahu pertama kali apa yang beliau jual "jaman sudah se-modern ini sudah jarang sekali yg menggunakan abu gosok". Namun, beliau tidak menyerah. Tidak menjadikan ke-rentaannya utk meminta belas kasih seseorang.
Itu yang saya patut acungi jempol.
Pagi ini, ketika ingin berangkat ke kampus. Saya bertemu kakek ini sedang duduk di pinggir jalan dengan lemahnya. Sontak saya berhenti, berniat membeli se-plastik abu gosok utk membantunya. Sebab jika saya hanya memberinya uang, sy takut beliau tersinggung.
"Pak, beli abu gosoknya ya" berkali2 saya berkata, beliau hanya terdiam. Ternyata, pendengaran beliau terganggu. Saya mengencangkan suara dan beliau akhirnya mendengar.
Dengan tergopoh2 utk berdiri beliau menyiapkan abu gosok pesanan saya.
"Tidak usah banyak2 pak, berapa harganya?"
"3000 ribu neng"
Saya terdiam, untuk seplastik abu gosok beliau hanya menjual 3000 rupiah. Benar2 nominal yg tdk ada apa2nya utk jaman skrg.
Saya pun bayar, memberi dengan lebih berniat bukan untuk menganggapnya peminta2 tapi karna simpati saya sebagai manusia (bukan utk riya hanya berbagi kisah).
Setelah saya bayar, begitu banyak doa yg beliau layangkan utk saya sambil mencoba duduk kembali.
Karena memang sudah lama sekali sy mencari kakek ini, moment ini pun saya gunakan utk sedikit bertanya ttg kehidupannya.
"Bapak tinggal dimana?"
"Deket, di deket bengkel las daerah pisangan"
(Saya menyimak)
"Saya tinggal numpang sama orang, anak saya tinggal di cikarang. Perut saya sakit neng, selama puasa gak pernah makan karena gak ada apa2 dirumah. Saur sm buka cuma pake air putih aja"
Suaranya terdengar parau menahan tangis.
"Bapak kenapa gak istirahat aja? Gak usah puasa aja pak"
Beliau hanya tersenyum. Dan berkata "maaf ya neng, saya gak bisa ngobrol banyak. Perut saya sakit kalo banyak ngobrol"
"Ohiyaa pak, saya pamit ya pak"
Tangis saya tertahan, saya merasa tertampar pagi ini.
Beliau sudah se-tua itu, masih sanggup berpuasa. Masih sanggup bekerja.
Saya yang se-muda ini, masih sering mengeluh, masih sering menyepelekan makanan sdgkan kakek tersebut, untuk makan pun susah.
Dari tulisan ini,
Saya bermaksud mengajak teman2 semua utk membantu beliau terkhusus mahasiswa/i UIN Jakarta karena posisi beliau yg dekat dgn kampus dan seluruh warga tangerang selatan.
Jika kalian temui kakek ini, berhentilah sejenak.
Belilah abu gosoknya yg seharga 3000 rupiah atau bola kecil yg seharga 5000 rupiah.
Pak, semoga hari ini Allah memberimu rezeki yg berlimpah dan semoga ibadah puasamu beberapa hari ini di terima oleh Allah.
Ciputat, 31 Mei 2017
Dalam postingan tersebut ditulis juga tanda pagar #mariberbagidibulanberkah, #berbagiterhadapsesama dan #ramadhanberkah
Tulisan yang diunggah akun Facebook Fauziah Ulfa ini pun mendapat banyak tanggapan. Hingga Kamis (1/6/2017) pukul 04.15 WIB, postingan ini sudah dibagikan sebanyak lebih dari 1000 kali dan mendapat 203 komentar.
Doa agar si kakek diberi kesehatan dan panjang umur pun mengalir. Beberapa komentar diataranya:
Evi Riyani: Saya sering beli bola bt anak saya wkt msih kecil dr kakek itu, anak saya skrg udh 8th...sehat dan panjang umur ya kek.
Ikha Ikhwanull: Ya allah baca ini miris bgt mpe netesin aer mata nyentuh di hati, kalo dekat pasty saya akan bantu karna dsini msh perlu dgn abu gosok,mudah" n si bapa mndptkan bnyak rejeki nd diberikan kesehatan oleh allah swt
Nurdiana: Amin semoga diberi kelancaran ya kakek
Muhamad Sukron: Sedih bgt cerita y qt aj msg kuat tuk puasa msg aj bnyak gk puasa kalah dengan seorang umur y 2X lipat ma qt
Edi Brekele Vacbdgtimur: Saya do'a in kakek sehat jasmani rohaninya dan selalu dalam lindungan ALLOH SUBHANNAHU WATTA ALA